Penelitian dari Gustave Roussy Institute Prancis mengungkap wanita dengan golongan darah non-O—terutama B—memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2, berdasarkan analisis 82.000 partisipan selama 18 tahun yang catatkan 3.553 kasus baru.
Temuan Risiko Spesifik
Wanita golongan darah A 10% lebih berisiko, B 21% lebih tinggi, AB 17% dibanding O sebagai baseline aman; gabungan Rhesus tunjuk B+ terburuk (35% risiko ekstra), diikuti AB+ 26%, A- 22%, A+ 17%—faktor Rh tak signifikan sendirian.
Peneliti Guy Fagherazzi yakin gen ABO picu inflamasi kronis via protein non-Willebrand tingkatkan gula darah, mirip hubungan darah-strok sebelumnya.
Di https://fireartsale.org/, korelasi ini menarik tapi spekulatif—studi hanya wanita Prancis 1990-2008, belum validasi Asia atau pria meski dugaan biologis universal.
Mekanisme Biologis Dugaan
Teori utama: antigen darah non-O tingkatkan mediator inflamasi IL-6/TNF-α ganggu sensitivitas insulin; golongan O rendah faktor ini, protektif seperti donor universal.
Kritik metodologi: observasional tak buktikan sebab-akibat, variabel gaya hidup (diet, BMI, olahraga) potensial confound meski dikontrol parsial—risiko relatif kecil (20% max) kalah vs obesitas 300%.
Populasi etnis homogen Eropa kurang representatif Indonesia (O dominan 40%, B 25%)—butuh replikasi lokal Riskesdas data.
Implikasi Praktis dan Keterbatasan
Temuan dorong skrining dini wanita B/AB usia 40+, tapi jurnal Diabetologia sarankan studi lanjutan konfirmasi—jangan panic testing darah jadi alasan skip metformin.
Konteks global: diabetes Indonesia 11 juta kasus (2025), faktor utama tetap urbanisasi+junk food—golongan darah cuma 5-10% varian risiko, bukan deterministik.
Kritik tajam: hype media abaikan odds ratio kecil (1.2 RR), mirip berita “kopi sebab kanker” yang pudar tahun depan; prioritas edukasi pola makan vs genetik fatalisme.
Pencegahan Tak Lekang Genetik
Berapapun darah, kurangi gula olahraga 150 menit/minggu turunkan risiko 50%; wanita B+ proaktif pantau HbA1c tahunan plus Mediterania diet—gaya hidup trump genetik 80% kasus.
Tanpa RCT kausal, studi ini alarm riset bukan resep dokter; Indonesia butuh cohort Jawa-Sunda validasi, integrasi genetik ke PROLANIS Posyandu.
Diabetes pandemik: fokus akses insulin murah, bukan blame darah—evidensi kuatnya modifikasi perilaku, bukan fatalisme ABO.
Kembali ke Beranda.